Minggu, Mei 13, 2012

Mempopulerkan Perpustakaan dengan Teknologi


Ketika kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan, pilih ke perpustakaan atau cukup browsing di internet untuk mencari sebuah informasi? Apa pilihan kita?
Dengan semakin mudahnya kita untuk mengakses internet, cukup dengan memasukkan keyword yang sesuai lewat mesin pencari seperti Google.com, kita langsung disuguhi oleh ratusan bahkan ribuan informasi terkait apa yang kita cari, lalu, apa yang membuat kita harus ke perpustakaan?  
Saya jadi teringat kritikan tentang teknologi internet yang dapat membuat orang menjadi pemalas dan dapat mengurangi sikap kritis. Sekadar contoh, siswa sekolah, mahasiswa maupun dosen, sering kali mengerjakan tugas di layar komputer dengan cara mengakses berbagai tema dari internet dan menyalinnya dalam hitungan detik tanpa sikap kritis-analisis.
Kehadiran internet memang menjadikan berbagai aktivitas kian dimudahkan. Dulu, saat internet belum marak seperti sekarang, kaum pembelajar harus berhadapan dengan petugas perpustakaan yang kaku demi meminjam setumpuk buku tebal yang bakal jadi referensi tulisan atau tugas akademik. Itu pun lengkap dengan bonus tangan pegal-pegal karena capek mencatat ulang berlembar-lembar.
Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah dengan makin berkembang dan meluasnya teknologi internet membuat keberadaan perpustakaan makin terpinggirkan?
Tidak, kalau kita berada di Belanda. Teknologi memang berkembang sangat pesat di Belanda, termasuk internet. Namun hal itu tidak menyurutkan niat masyarakat Belanda berkunjung ke perpustakaan, baik untuk mencari informasi maupun hanya sekedar membaca buku. Bahkan teknologi internet menjadi sahabat perpustakaan disana.
Apa yang membuat masyarakat Belanda gemar ke perpustakaan?
DOK Library Concept Center yang berada di Kota Delft Belanda merupakan world’s “best” or “most modern” public library. Mereka merubah konsep perpustakaan yang selama ini dipandang orang sebagai tempat yang membosankan, dimana di sekeliling ruangan, disetiap sudut, yang ada hanya buku dan buku, menjadi tempat yang menyenangkan, tempat untuk mendapatkan informasi, inspirasi, dan hiburan dengan memadukan unsur books, films, music, art and magazines.
DOK Library Concept Center

DOK mempunyai koleksi 110.000 buku, 40.000 CD, 5000 DVD (1500 diantaranya film), 200 majalah, 10.000 koleksi musik, dan 4.000 karya seni. Dengan lebih dari 30.000 pengguna online per bulannya. Begitu banyak hal yang bisa kita lakukan disini, kita bisa melihat berbagai hasil karya jenius dari tokoh-tokoh dunia, bahkan dapat membawanya pulang, dengan batasan waktu lama peminjaman sampai 6 bulan.
Tidak hanya sebagai penyedia berbagai macam koleksi buku, DVD dan beragam hasil karya seni. DOK juga memfasilitasi orang-orang yang ingin berkarya, DOK mmenyediakan fasilitas yang dinamakan AGORA, AGORA (your life’s storyboard) adalah semacam prototype dengan sistem digital touchscreen yang disana kita dapat memasukkan dan berbagi cerita kita sendiri dalam bentuk electronic storyboard.
DOK juga mempunyai arsip yang cukup lengkap terhadap warisan-warisan budaya dunia, seperti lukisan, gambar, kartu pos, dan vidio. Semua didigitalisasi agar masyarakat dengan mudah dapat mengakses kekayaan warisan budaya tersebut.
Konsep perpustakaan modern ini terus berkembang dibanyak kota di Belanda. Inovasi-inovasi terbaru untuk meremajakan perpustakaan terus dilakukan. Semua dilibatkan, mulai dari karyawan sampai ke masyarakat kota diberikan kesempatan untuk memberikan ide-ide brilian mereka untuk mengembangkan perpustakaan.
Adanya kerjasama manusia dan teknologi dengan didasari oleh kreativitas membuat nilai-nilai dan kebiasan positif menjadi tetap terjaga, keberadaan internet bukanlah ancaman terhadap perkembangan perpustakaan, bahkan kedua bagian ini saling melengkapi pada akhirnya.



http://www.infotoday.com/searcher/mar10/Birdsong.shtml

Final Round BCF Marketing Communication Competition, Jumat 20 April 2012



Final round BCF Marketing Communication Competition telah berhasil mendapatkan pemenangnya, acara yang berlangsung pada hari jumat, 20 April 2012 ini diikuti oleh 5 finalis yang berasal dari Universitas Prof. Dr. Moestopo, Universitas Indonesia, Institut Manajemen Telkom, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Padjajaran sendiri.
Pada acara final ini, peserta diberikan waktu 20 menit untuk mempresentasikan proposal strategi marketing komunikasinya, kelima finalis tampak sangat atraktif, dengan metode presentasi yang beragam, seperti yang dilakukan Tim Exellence Green Marketeers dari Institut Pertanian Bogor yang mempresentasikan proposalnya dengan gaya Talkshow, kemudian Tim Going Merry dari Universitas Indonesia dengan gaya interaktifnya, membuat penonton betah dan bersemangat untuk menyaksikan acara ini sampai selesai.
Acara semakin menarik, ketika masing-masing tim dihadapkan oleh pertanyaan-pertanyaan dari juri, juri yang terdiri dari Djito Kaliso (Strategic Planning Manager Dwi Sapta) dan M.Kh.Rakhman (Vice President Corporate strategic Planning – Sygma Creative media Corporation) membuat para finalis terlihat tertekan, namun dengan argumen yang kuat dan persiapan yang cukup matang, para finalis bisa memuaskan juri.
Tim Going Merry dari Universitas Indonesia misalnya membuat terobosan bagi Museum Sri Baduga yang akan membuat Museum ini menjadi museum yang lebih interaktif! Grand Plan Marketing mereka dengan menghidupkan Museum Sri Baduga dengan satu kalimat objektif “GOES INTERACTIVE!”
Sedangkan dari Tim Vincere Universitas Padjajaran, mereka menerapkan Strategi Kampanye “Kita Cinta Sribaduga” Strategi yang dijalankan dalam menuntaskan marketing objectives diatas akan dijalankan dalam waktu 3 tahun yang dibagi menjadi Short Term (Tahun pertama), Medium Term( Tahun kedua) , Long Term (Tahun ketiga).
Ketiga finalis lain juga tidak mau kalah, dengan strategi marketing yang kreatif serta inovasi-inovasi baru yang memukau perhatian juri dan penonton, hal ini membuat penilai juri terhadap kelima tim menjadi sangat ketat. Ini terbukti dari perolehan nilai masing-masing tim berselisih tipis.
Setelah juri berdiskusi akhirnya ditetapkan tim yang berhak menjadi juara 1, 2, dan 3. Juara 3 diraih oleh tim Moestopo dari Universitas Prof. Dr. Moestopo, juara 2 diraih oleh Tim Vincere dari Universitas Padjajaran, dan juara pertama berhasil diraih oleh tim Going Merry dari Universitas Indonesia.
Kompetisi ini diharapkan dapat membangun hubungan yang baik antara Hima Mankom Fikom Unpad dengan Universitas yang terlibat sebagai peserta serta dengan Dwi Sapta sebagai pihak yang mensponsori acara ini.

                                                                                                                 Azka Haria Fitra/AHF