Ketika
kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan, pilih ke perpustakaan atau cukup
browsing di internet untuk mencari sebuah informasi? Apa pilihan kita?
Dengan semakin mudahnya kita untuk mengakses
internet, cukup dengan memasukkan keyword yang sesuai lewat mesin pencari
seperti Google.com, kita langsung disuguhi oleh ratusan bahkan ribuan informasi
terkait apa yang kita cari, lalu, apa yang membuat kita harus ke
perpustakaan?
Saya jadi teringat kritikan tentang
teknologi internet yang dapat membuat orang menjadi pemalas dan dapat mengurangi
sikap kritis. Sekadar contoh, siswa sekolah, mahasiswa maupun dosen, sering
kali mengerjakan tugas di layar komputer dengan cara mengakses berbagai tema
dari internet dan menyalinnya dalam hitungan detik tanpa sikap kritis-analisis.
Kehadiran internet memang menjadikan
berbagai aktivitas kian dimudahkan. Dulu, saat internet belum marak seperti
sekarang, kaum pembelajar harus berhadapan dengan petugas perpustakaan yang
kaku demi meminjam setumpuk buku tebal yang bakal jadi referensi tulisan atau tugas
akademik. Itu pun lengkap dengan bonus tangan pegal-pegal karena capek mencatat
ulang berlembar-lembar.
Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah
dengan makin berkembang dan meluasnya teknologi internet membuat keberadaan
perpustakaan makin terpinggirkan?
Tidak, kalau kita berada di Belanda. Teknologi
memang berkembang sangat pesat di Belanda, termasuk internet. Namun hal itu
tidak menyurutkan niat masyarakat Belanda berkunjung ke perpustakaan, baik untuk
mencari informasi maupun hanya sekedar membaca buku. Bahkan teknologi internet menjadi
sahabat perpustakaan disana.
Apa
yang membuat masyarakat Belanda gemar ke perpustakaan?
DOK Library Concept Center yang berada
di Kota Delft Belanda merupakan world’s
“best” or “most modern” public library. Mereka merubah konsep perpustakaan
yang selama ini dipandang orang sebagai tempat yang membosankan, dimana di
sekeliling ruangan, disetiap sudut, yang ada hanya buku dan buku, menjadi
tempat yang menyenangkan, tempat untuk mendapatkan informasi, inspirasi, dan
hiburan dengan memadukan unsur books,
films, music, art and magazines.
![]() |
| DOK Library Concept Center |
DOK mempunyai koleksi 110.000 buku,
40.000 CD, 5000 DVD (1500 diantaranya film), 200 majalah, 10.000 koleksi musik,
dan 4.000 karya seni. Dengan lebih dari 30.000 pengguna online per bulannya.
Begitu banyak hal yang bisa kita lakukan disini, kita bisa melihat berbagai
hasil karya jenius dari tokoh-tokoh dunia, bahkan dapat membawanya pulang,
dengan batasan waktu lama peminjaman sampai 6 bulan.
Tidak hanya sebagai penyedia berbagai
macam koleksi buku, DVD dan beragam hasil karya seni. DOK juga memfasilitasi orang-orang
yang ingin berkarya, DOK mmenyediakan fasilitas yang dinamakan AGORA, AGORA (your life’s storyboard) adalah semacam
prototype dengan sistem digital
touchscreen yang disana kita dapat memasukkan dan berbagi cerita kita
sendiri dalam bentuk electronic
storyboard.
DOK juga mempunyai arsip yang cukup
lengkap terhadap warisan-warisan budaya dunia, seperti lukisan, gambar, kartu
pos, dan vidio. Semua didigitalisasi agar masyarakat dengan mudah dapat
mengakses kekayaan warisan budaya tersebut.
Konsep perpustakaan modern ini terus berkembang
dibanyak kota di Belanda. Inovasi-inovasi terbaru untuk meremajakan
perpustakaan terus dilakukan. Semua dilibatkan, mulai dari karyawan sampai ke
masyarakat kota diberikan kesempatan untuk memberikan ide-ide brilian mereka
untuk mengembangkan perpustakaan.
Adanya kerjasama manusia dan teknologi
dengan didasari oleh kreativitas membuat nilai-nilai dan kebiasan positif
menjadi tetap terjaga, keberadaan internet bukanlah ancaman terhadap
perkembangan perpustakaan, bahkan kedua bagian ini saling melengkapi pada
akhirnya.
http://www.infotoday.com/searcher/mar10/Birdsong.shtml
